Selamat Ber-Harlah Poro Petinggi PP GP Ansor Yang Terhormat


Selamat hari lahir Ke-92 tahun GP Ansor, ornagisasi kepemudaan keagamaan terbesar Se-dunia. Angka yang sudah hampir menjelang satu abad, semoga GP Ansor tetap menjadi Maidaanul Khidmah, ladang berkhidmah bagi anak-anak muda Nahdlatul ulama untuk ummat, bangsa dan bahkan dunia.

GP Ansor adalah kapal besar yang sedang dan terus akan berlayar di samudera pengabdian kepada para Kiai, Ulama, ummat, bangsa dan dunia, ombaknya tentu besar, badainya tentu mengerikan, namun kita lahir dari rahim para pejuang yang handal, kita lahir dari rahim para Wali Allah dan para Ulama. Kapal kita dihantam badai itu biasa, namun ketika ada sahabat kita yang terjatuh kelautan, semua akan menolongnya, tidak akan ditinggalkan dan lalu dilupakan. Sekali lagi tidak akan.

GP Ansor besar dan sangat besar karena salah satunya adalah karena kepatuhan kepada Poro Kiai Nahdlatul Ulama dan kesetiaan kepada sahabatnya, bagaimana dan seperti apa keadaannya, kita, kader GP Ansor selalu setia, karena itu alasan paling mendasar arti dari panggilan “Sahabat” dari kader atas kader yang lainnya.

Harlah kali ini saya jujur sedang bersedih, dan mungkin kesedihan yang sama atas jutaan kader GP Ansor lainnya di daerah, mantan Ketua Umum kita, sekali lagi, Ketua Umum, yang khidmah, perjuangan dan pengorbanannya bagi GP Ansor sangat luar biasa, setelah purna masih bersedia menjadi Ketua Dewan Penasehat kita, tidak pernah melupakan kader-kadernya, saat ini tertima fitnah besar, Khidmahnya pada Bangsa diganjar fitnah keji pada dugaan Korupsi, tidak ada bukti apapun, aliran dana, suap dan kerugian negara yang disebabkan olehnya, namun hari ini dipenjara, kita semua sepakat, bahwa korupsi adalah musuh kita bersama, kita sepakat soal pemberantasan korupsi, namun jika hanya dijadikan kambing hitam atas sengkarut korupsi? Siapa yang terima?

Lara ini sangat, ketika yang terhormat para pimpinan GP Ansor di Jakarta sana diam, bukan hanya diam, namun acuh dan meninggalkannya sendirian, tanpa pembelaan, tanpa doa dan munajat harapan, tidak ada, sementara kami yang di bawah bermunajat, berteriak lantang membela beliau, bagi kami sederhana, beliau adalah bapak kami, pimpinan di hati kami, perjuangan dan pengorbanannya pada organisasi luar biasa, beliau Kiai kami, beliau terlalu banyak jasa kepada kami, kami membela, kami berdoa, kami bukan membela koruptor, beliau bukan koruptor, yang kami bela adalah kebenaran yang dipelintir, dipolitisasi dan dikriminalisasi. Beliau disalahkan, di-koruptor-kan bukan oleh bukti, namun oleh framing jahat media dan tentunya oleh diamnya para petinggi GP Ansor.

Bagi kami sederhana, beliau saja yang mantan Ketua Umum, Ketua Dewan Penasehat, yang perjuangan dan jasanya luar biasa untuk organisasi, didiamkan, ditinggalkan, dilupakan, bagaiaman dengan kami di bawah? Akan adakah pembelaan dari para petinggi GP Ansor yang terhormat? Lalu kenapa diam? Hilang kesetiaan karena ambisi pribadi? Habis manis sepah dibuang? Ternsadra nahsu politik berkuasa yang menjijikan? Ah entah, tidak habis pikir kami bertanya-tanya. Seperti inikah PP GP Ansor yang terhormat menyikapi sahabatnya? Mantan ketua umumnya? Ketua dewan penasehatnya? 

Jika kami terus membela beliau, jangan halangi kami, ini bukan sikap tidak taat kepada komando pimpinan, namun adalah sikap bagiamana kesetiaan kepada Sahabatnya diuji, soal nilai luhur organisasi, soal bagaimana kami tidak pernah diajarkan meninggalkan sahabat kami yang sedang tenggelam dan bagaimana sikap kami menghargai orang yang telah berjuang, berkorban untuk organisasi yang sama-sama kita cintai ini. Selamat ber-harlah GP Ansor.

Repost: WAG PKL Muadalah
Editor: AMU

Previous Post Next Post