Hari ini usia gerakanku genap 92 tahun. Gerakan Pemuda Ansor, rumah yang dulu mendidik saya memahami arti berdiri tegak tanpa banyak bicara. Dari bilik-bilik kepemimpinan masa lalu, dari ruang-ruang sederhana yang mengajarkan arti setia tanpa syarat, saya hanya ingin menyampaikan satu dua kegelisahan. Bukan untuk menggugat, apalagi berpaling. Justru karena ingin rumah ini tetap terasa hangat sebagai rumah, bukan sekadar bangunan yang ramai karena hiruk pikuk kepentingan sesaat.
Dulu kami diajari bahwa ber-Ansor itu soal keteguhan hati, bukan kelincahan mencari posisi. Jabatan adalah amanah, bukan hadiah yang ditunggu pembagiannya. Namun belakangan, suasananya terasa berbeda. Ada yang lebih sibuk menghitung kursi daripada menimbang khidmah. Ada yang tampak gagah saat diberi panggung, lalu menghilang saat lampu dipadamkan. Ada yang hadir ketika kamera menyala, tapi lenyap ketika kerja sunyi menunggu tangan-tangan tulus bagai Ronin.
Saya teringat dawuh para senior di Ansor, terutama pesan almarhum Ndan Alfa Isnaeni, yang menggambarkan kader sejati seperti benalu, hidup dalam keterbatasan, tapi tetap hijau, tetap memberi tanda kehidupan. Hari ini, rasanya tidak sedikit yang baru mau bergerak ketika namanya tercantum dalam struktur. Ketika tidak mendapat ruang, mendadak sibuk dengan urusan sendiri. Rumah pengabdian ini pelan-pelan seperti bergeser menjadi panggung kepentingan, bahkan kadang menyerupai ruang transaksi yang terlalu riuh untuk disebut sebagai ladang khidmah. Semoga ini hanya kekeliruan dalam membaca tanda-tanda. Astaghfirullah, semoga saya salah duga dan salah baca.
Suatu kali saya mendengar bahwa ber-Ansor bukan soal siapa yang memimpin, tapi siapa yang tetap berjalan. Kalimat itu benar, tapi tidak selesai di situ, belum tamam. Jalan yang kita tempuh tidak selalu rata. Ada tanjakan yang menguras tenaga, ada turunan yang membius kewaspadaan, dan ada persimpangan yang menuntut ketegasan arah. Di situlah arti pemimpin menjadi sangat menentukan. Pemimpin yang amanah akan menuntun langkah ke jalan yang berkah. Sebaliknya, kelalaian di pucuk kepemimpinan, meski dibungkus seremonial dan doa, bisa perlahan membawa langkah ke arah yang tak lagi kita sadari.
Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, kita diajarkan adab yang jernih. Menghormati pemimpin adalah kewajiban, tetapi mengingatkan adalah bentuk kesetiaan. Tidak ada kemuliaan dalam diam ketika perahu mulai bocor. Sebab diamnya kader atas sesuatu yang menyimpang, bukanlah sikap tawadhu’, melainkan awal dari pengkhianatan terhadap amanah yang lebih besar.
Catatn ini tidak hendak merusak kebersamaan. Justru karena kebersamaan itu berharga, ia harus dijaga dengan kejujuran. Kebersamaan yang dibangun di atas rasa takut atau sekadar berbagi jatah, hanya akan melahirkan senyum di depan dan luka di belakang. Itu bukan persahabatan dan apalagi persaudaraan, itu sekadar drama yang terlalu sering diulang.
Kadang saya bertanya dalam diam, apakah GP Ansor hari ini masih menjadi rumah bagi mereka yang ikhlas berkhidmah tanpa perlu disebut namanya. Ataukah perlahan berubah menjadi ruang bagi mereka yang hanya bersedia berkorban jika ada jaminan untuk dikenang.
Saya tidak tergesa menjawab. Saya hanya berharap, di usia yang semakin matang ini, Ansor kembali menengok ke dalam, menyentuh lagi ruh awal yang dulu membuatnya hidup. Bukan pada kemegahan acara, bukan pada padatnya barisan tanpa arah, tetapi pada seberapa dalam manfaatnya dirasakan oleh kader di bawah, oleh warga Nahdliyin, dan oleh bangsa yang lebih luas. Karena pada akhirnya, sejarah tidak mencatat siapa yang paling sering tampil, melainkan siapa yang paling setia hadir dalam sunyi untuk berbuat baik.
Selamat ulang tahun Gerakanku. Semoga engkau tetap menjadi tempat pulang bagi mereka yang lelah dengan kepalsuan. Dan semoga kita semua tidak berubah menjadi tamu yang datang ketika ramai, lalu pergi saat rumah ini benar-benar membutuhkan keteguhan tangan-tangan yang bertahan.
#Harlah92GPAnsor, Photo Bib Hamzah Asyatri
Sumber: Repost dari https://www.facebook.com/1217272841/posts/10242991345619073/?mibextid=wwXI&rdid=aKKnZLrerfZh42GT#
