NYADRAN NGAWITI MUNGGAHAN POSO LAN SYAWALAN (Merenda Tradisi Dalam Perjalanan Hidup Manusia)
Oleh: A. Hanief Saha Ghafur
Guru Besar pada Program Doktor Kajian Stratejik dan Global, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan (SPPB), Universitas Indonesia
Hampir semua masyarakat punya tradisi memperingati momen penting dalam perjalanan hidupnya. Momen dari mulai upacara kelahiran, pernikahan, kematian, dan seterusnya. Semua momen tersebut memiliki percabangan tersendiri dan yang paling berkesan itu dibuatkan suatu peringatan, kenduri, slametan, dan upacara ritual lainnya. Termasuk di antaranya adalah upacara kematian. Para Antropolog menyebutnya sebagai upacara perpisahan (liminal separation) atau ritus peralihan (rites of passage). Masing-masing tradisi memiliki karakteristik dan kekhasan yang berbeda dalam memperingati momen tersebut. Salah satu percabangan dalam memperingati upacara kematian adalah tradisi nyadran. Nyadran adalah tradisi khas dan turun-temurun, khususnya pada masyarakat suku Jawa. Berbentuk rangkaian ritual dan ziarah kubur sebelum masuk bulan Ramadlan dan diawal Hari Raya Idul Fitri. Nyadran nompo poso dilakukan setiap akhir bulan Ruwah, sedang nyadran syawalan dilakukan dawal riyoyo dalam kalender Jawa. Syawal dikenal sebagai nama bulan Hijriah. Namun Syawalan bukanlah dimaksudkan sebagai nama bulan. Tetapi Syawalan adalah suatu kenduri, slametan, dan nyadran yang dilakukan di bulan Syawal. Biasanya tradisi nyadran dilakukan usai sholat Idul Fitri dan sekaligus kenduri keluarga, saling berkunjung antar tetangga dan keluarga, serta Halal bi Halal. Ritual nyadran ini dilakukan berupa upacara slametan di rumah, ziarah kubur, resik-resik makam, doa bersama, tahlilan, baca surat Yasin, dan tabur bunga di atas pusara. Tradisi ini merupakan wujud penghormatan, syukuran, doa arwah leluhur, bersih-bersih, dan sesuci jiwa menjelang masuk bulan puasa. Tradisi ini menjadi suatu ritus kebersamaan yang menurut Emile Durkheim bermanfaat dalam mengintegrasikan tradisi, mempererat dan memperkuat jejaring kekerabatan. Tradisi inilah yang jamak kita lihat dan sekarang ramai kunjungan ke kerabat dan nyadran ke makam-makam di sekitar kita. Tulisan ini merupakan catatan lapangan dalam perspektif antropologi budaya.
Setiap menjelang bulan Ramadlan ada tradisi "nompo poso" yang selalu disiapkan orang Jawa, baik di rumah berupa "slametan" dengan jajanan pasar, masakan sesajen, makan bersama, dan nyadran mendatangi kuburan. Tradisi ini banyak dilakukan orang Jawa untuk menghormati dan berdoa untuk arwah leluhur. Walaupun suku Jawa bukanlah termasuk kategori penyembah leluhur yang kuat (ancestor worship), seperti suku Toraja, Bali Age, Chinese, dan lainnya. Bagi kaum santri, saya tidak tahu, apakah tradisi nyadran ruwahan dan Syawalan ini ada dasarnya dalam tuntunan Islam ? Mungkin yang ada adalah ziarah kubur biasa, kapan saja dan di mana saja. Tidak mesti harus nyadran menjelang bulan Ramadhan atau diawal bulan Syawal saja. Bagi "santri" dalam pengertian Clifford Geertz mereka yang memiliki kepatuhan ritual, nyadran sekedar tradisi sebagaimana tradisi pada umumnya, bukanlah suatu perintah agama yang harus dilaksanakan. Bagi santri, doa dan ziarah kubur itu sudah menjadi ritual hari-hari bagi mereka. Dalam tradisi Islam jawa ziarah kubur di awal puasa itu suatu tradisi khas di momen hari istimewa yang perlu hadir dengan bersih-bersih, tabur bunga, & berdoa yang mereka sebut "nyadran ngawiti munggahan poso lan syawalan". Itulah sebabnya, mengapa banyak pemakaman penuh dengan para peziarah dan pedagang bunga dan penjaja makanan. Baru nyadran itu sepi setelah "nompo poso" di hari pertama bulan puasa dan muncul lagi usai sholat Idul Fitri.
Ternyata tak hanya orang jawa saja yang punya "tradisi nyadran". Suku-suku lain di Jakarta semakin banyak juga yang nyadran ngawiti munggahan poso dan pendak Syawalan serta Halal bi Halal keluarga. Mungkin suku-suku lain menganggapnya sebagai tradisi positif untuk diikuti. Terbukti dari mereka yang sekarang hadir ke pemakaman itu dari berbagai macam suku, selain suku Jawa tentunya. Dengan macam istilah yang berbeda, seperti nyekar, nyelasih, mapag pasa, nyorog poso, dan lainnya yang intinya adalah nyadran.
Bagi masyarakat Jakarta yang "melting pot" dan terlahir dari campuran berbagai suku dengan tradisi yang berbeda-beda, maka batas-batas kesukuan itu menjadi tereduksi, identitas kesukuan di non aktifkan, bahkan tak jarang netral suku dalam interaksi sosial-nya. Mereka merasa menjadi "anak semua suku". Bahkan anak Jakarta yang kosmopolitan lebih merasa menjadi "anak semua bangsa" meminjam istilah Pramudya Ananta Toer. Banyak mereka tetap nyadran atau ziarah kubur hanya semata tuntunan agama, tanpa beban tradisi dan ritual adat. Sabtu 14/2 saya jalan-jalan ke komplek pemakaman Sandiego Hills di Karawang yang mulai ramai dengan para peziarah. Saya mengamati peziarah yang datang ke pemakaman khusus keluarga the have dan eksklusif dengan wajah bersih dan mobil-mobil mewah. Mereka ziarah ke kompleks pekuburan keluarga yang dipagari khusus dalam area pemakaman Sandiego Hills, Karawang. Sepertinya mereka datang untuk ziarah kubur saja, tidak nyadran sebagai bentuk perintah tradisi. Setelah mereka bersih-bersih rumput, tabur bunga, baca Yasin dan Tahlil mereka pulang.
Puncak keramaiannya itu ada di akhir bulan Ruwah, sehari sebelum masuk bulan Puasa dan juga usai sholat IdulFitri. Rabo 18/2 kompleks pemakaman di Jakarta penuh dengan para peziarah dan para pedagang yang mencari peruntungan dari kehadiran mereka. Mulai dari juru parkir, pedagang asongan, penjual bunga, tukang bersih-bersih rumput, juru doa, dan lainnya. Bagi keluarga yang sudah bisa berdoa sendiri, sudah tidak masalah dan tidak perlu sewa juru doa. Tetapi bagi yang tidak bisa, jangan kuatir tersedia banyak juru doa yang siap membantu baca tahlil, surat Yasin, dan doa arwah. Banyak juga keluarga yang sudah membawa juru doa atau ustadz sejak dari rumah mereka masing-masing. Saya menghampiri dan bertanya kepada ustadz pembaca doa. Apakah doanya nyampek atau tidak kepada mereka di alam kubur?? Dengan ringan dan sambil senyum Ustadz itu menjawab ringan: Yaa pasti nyampek lhaa Mas. "Bukti doa itu tidak ditolak, karena tidak dikembalikan oleh Malaikat". Dalam hal urusan kuburan, warga Jakarta memang cerdas membaca peluang dan ambil kesempatan dengan jualan segala macam.
Jakarta 18 Februari 2026
HSG
Tags:
#Opini