RENUNGAN HARKITNAS 2026 - TIDAK AKAN ADA KEBANGKITAN TANPA PENDIDIKAN BERMUTU



Oleh: A. Hanief Saha Ghafur

Guru Besar  pada Program Doktor Kajian Stratejik dan Global (S3- KSG), Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan (SPPB), Universitas Indonesia.
Ketua Umum, Pengurus Pusat Majelis Kridatama Pancasila (PP-MKP).


1. PENDAHULUAN 
Setiap bulan Mei bangsa Indonesia selalu memperingati dua momen besar, yaitu HARDIKNAS (Hari Pendidikan Nasional) dan HARKITNAS (Hari Kebangkitan Nasional). Dua momen berbeda, tetapi makna sinergisnya bagi bangsa adalah satu, yaitu Hardiknas untuk memberi spirit kemajuan dan kemampuan nyata untuk kebangkitan. Sedang Harkitnas untuk dapat menggerakkan kemajuan yang berdampak nyata bagi bangsa ke depan. Jarak hari antara 2 s/d 20 Mei seharusnya dapat diisi dengan berbagai program, kegiatan, dan agenda aksi. Semua bergerak, bersinergi dan berkolaborasi unjuk kegiatan dan kemajuan. Hari-hari antara Hardiknas dan Harkitnas diisi dengan sukses Indonesia di bidang kemajuan pendidikan dan capaian IPTEK dengan meneguhkan sebagai "super culture" dan karakter etos bangsa. Juga diisi dengan kegiatan yang dapat menggelorakan semangat nasionalisme dan patriotisme transformatif bagi kemajuan dan kebangkitan bangsa ke depan. 

Namun sayang seribu sayang. Hardiknas dan Harkitnas hanya diperingati sekedar upacara peringatan, setelah itu selesai. Meminjam kata-kata Soekarno: "adem ayem kadiyo siniram banyu ayu sewindu lawase".  Penguatan dapat dilakukan oleh dua pemangku (host) kegiatan Hardiknas dan Harkitnas dengan berbagai kegiatan. Penguatan dikukuhkan melalui PERPRES atau minimal Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri untuk kolaborasi unjuk kegiatan dan unjuk capaian sukses bangsa melalui macam program dari semua kementerian. Kritik selama ini, seolah Hardiknas hanya sekedar upacara mengenang Ki Hadjar Dewantara dan Harkitnas sekedar upacara mengenang sejarah Boedi Oetomo 1908. Upacara dan mengenang  sejarah itu penting dan dibutuhkan.  Tetapi menjawab tantangan dan memberi solusi masa depan itu jauh lebih penting dan mendesak untuk dilakukan.
Dua momen upacara itu sekarang terkesan tanpa proyeksi dan transformasi bagi kemajuan yang membangkitkan. Hardiknas tanpa unjuk pendidikan bermutu yang mencerdaskan dan berdampak signifikan terhadap kemajuan masa depan. Sedang Harkitnas tanpa glorifikasi  dan semangat membangun karakter etos kebangsaan yang transformatif dan menggerakkan dan membangkitan. 

Itulah sebabnya mengapa saya memilih judul tulisan ini "Tidak Ada Kebangkitan Tanpa Pendidikan bermutu". Tujuannya tidak semata untuk mengenang sejarah, tetapi sekaligus memberi proyeksi strategis dan kekuatan transformatif berkemajuan yang berdampak dan membangkitkan Indonesia. Berdirinya Boedi Oetomo 1908, Sumpah Pemuda 1928, dan Proklamasi Kemerdekaan 1945 adalah buah hasil dari rangkaian transformasi cerdas ruh nasionalisme dan patriotisme yang menggerakkan. Sekarang kita memperingati 3 momen sejarah itu juga harus transformatif dan berdampak, seiring dengan gerak kemajuan zaman. Dengan menghitung dan mengukur, seberapa keterlambatan waktu berjalan antara capaian kita dibidang IPTEK misalnya dengan kemajuan yang ada sekarang?? Inilah wujud transformasi dan tantangan kita ke depan. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mengeritik mereka yang mengenang sejarah Hardiknas dan Harkitnas. Tetapi penulis lebih berharap dapat memperkuat proyeksi sejarah dan transformasi menjawab tantangan masa depan. 

2. KEBANGKITAN NASIONAL DAN KESADARAN NASIONAL
Perjuangan angkatan 1908 - 1928 - 1945 adalah suatu ihtiyar kebangsaan untuk mentransformasikan kemajuan Indonesia merdeka ke depan. Bergerak terus maju, bermutu, membangun Indonesia sejahtera yang kita cita-citakan. Perjuangan dengan kepeloporan para pelajar dan pemuda. Semua transformasi perjuangan pada momen 1908 -> 1928 -> 1945 selalu berjalan seiring dengan tingkat pendidikan yang sedang mereka jalani. Berdirinya Boedi Oetomo 1908 adalah berkat kepeloporan pelajar sekolah menengah yang didirikan Belanda saat itu. Sumpah Pemuda adalah berkat kepeloporan para mahasiswa yang sedang kuliah saat itu. Sedang  Proklamasi Kemerdekaan adalah berkat kepeloporan para pemuda yang tidak bisa lanjut kuliah, karena Jepang sejak 1942 menutup semua sekolah dan perguruan tinggi bikinan Belanda.

Banyak yang lepas dari perhatian kita, bahwa 3 momen besar sejarah adalah satu garis evolusi pertumbuhan dari berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ketiga momen sejarah itu kepanitiaannya adalah para pelajar dan mahasiswa yang tumbuh oleh fase-fase pendidikan yang didirikan Belanda. Bahkan pendidikanlah yang berkontribusi besar dalam mencerdaskan dan menyadarkan keterjajahan mereka. Menurut Sartono Kartodirdjo bahwa "sadar terjajah" itu justru sangat kuat pada kesadaran warga Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) yang sedang belajar di luar negeri, ketimbang pelajar Indonesia di dalam negeri. Walaupun institusi pendidikan modern itu lebih banyak didirikan oleh Belanda si penjajah. Namun ada saja sekelompok anak muda yang sadar melawan dan bangkit mendobrak keterjajahan diri dan bangsanya. Kesadaran kritis itu berjalan seiring, saling mengisi, dan meneguhkan antara sekolah dan Budi Oetomo dalam memberi inspirasi untuk bangkit dan melawan. Pendidikan bukan hanya mewarnai pemikiran dan memberi pencerahan pada setiap zamannya. Tetapi juga melahirkan generasi patriotik revolusioner dan angkatan pendobrak dari kebuntuan politik dan penindasan penjajah menuju kemerdekaan sejati. Bukan semata perjalanan kumulatif, tetapi juga kemajuan perjuangan yang progresif-revolusioner. Mulai dari Gerakan kepeloporan pemuda dan pelajar yang tergabung dalam Boedi Oetomo sebagai angkatan 1908. Juga kepeloporan Sumpah Pemuda oleh generasi terdidik oleh angkatan 1928 atas arahan dari para seniornya angkatan 1908. Begitu pula para senior Angkatan 1928, seperti Soekarno, Hatta, Yamin, Soepomo, dan lainnya menggerakkan para pemuda untuk memproklamirkan kemerdekaan Indonesia 1945. 

Setelah Indonesia merdeka, Para senior 1945 adalah pejabat negara yang menjadi pemimpin generasi angkatan pertama. Mereka mulai membuka kembali sekolah dan perguruan tinggi setelah ditutup oleh Jepang 1942. Dari mahasiswa KAMI dan kepeloporan pemuda dan pelajar yang kemudian dikenal sebagai angkatan 1966, perubahan rezim dan transformasi itu terus bergulir. Begitu pula gerakan reformasi Angkatan 1998 digerakkan oleh para senior seperti Megawati, Abdurrahman Wahid, Nurcholis Madjid, Sri sultan Hamengkubowono X, dan lain-lain. Semua momen sejarah tersebut memiliki kekhasannya tersendiri, baik dari karakteristik gerakan, latar belakang pendidikan, ideologi dan pemikirannya. Mereka merespon tantangan sesuai situasi dan kebutuhan zamannya. Semua momen itu, hakekatnya adalah satu rangkaian perjuangan berkelanjutan menuju Indonesia yang kita cita-citakan, yaitu Indonesia yang merdeka, berdaulat, adil, makmur, dan sejahtera. Tentu tantangan yang berbeda membutuhkan solusi dan jawaban yang berbeda pula. Bila dulu tantangannya menghadapi penjajah. Maka sekarang menghadapi tantangan kemajuan IPTEK dan membangun kekuatan ekonomi-kesejahteraan.

Kehadiran Budi Oetomo (BO) tidak bisa dilepaskan dari kelompok terdidik dan lembaga pendidikan modern pertama yang didirikan oleh Belanda. Berdirinya Boedi Oetomo itulah yang dijadikan sebagai momentum lahirnya kesadaran kita sebagai satu bangsa. Boedi Oetomo saat itu  adalah organisasi pertama yang merajut orang-orang dari berbagai wilayah Nusantara, tanpa memandang suku, ras, dan agamanya, memiliki kesadaran yang sama dan sepenanggungan. Para pendiri Boedi Oetomo adalah para pelajar dan pemuda terdidik yang bersekolah atau lulusan sekolah menengah, seperti OSVIA, HBS, AMS, dan MULO. Begitupula STOVIA yang saat Boedi Oetomo didirikan berupa sekolah dokter Jawa setingkat SLTA. Baru pada tahun 1913, Belanda  mengembangkan STOVIA menjadi setingkat akademi. Para pelajar STOVIA inilah yang menjadi pelopor berdirinya pergerakan Boedi Oetomo. Dari generasi angkatan 1908 ini antara lain Wahidin Soedirohusodo, Tjipto Mangunkusumo, dan lainnya.   Setelah berdirinya Boedi Oetomo, lahirlah susul menyusul organisasi kemasyarakatan yang lahir dan merajut saling merekatkan masyarakat Nusantara menjadi sutu bangsa, walaupun saat itu  belum punya negara. Seperti berdirinya Syarekat Islam (1911), Muhammadiyah (1912), NU (1926), PNI (1927) dan lainnya yang merajut cabang-cabang di seluruh wilayah Nusantara. 

Sejak Belanda mulai mendirikan perguruan tinggi, diawali dengan mengembangkan STOVIA menjadi setingkat akademi pada tahun 1913, maka di tahun berikutnya berdiri Sekolah Tinggi Kedokterang (GHS, 1918), Sekolah Tinggi Teknik (THS, 1920), Sekolah Tinggi Hukum (RHS, 1924), dan lainnya. Para mahasiswa pada perguruan tinggi inilah yang menjadi pelopor berdirinya organisasi Indonesia Muda (IM), menyelenggarakan Kongres Pemuda Indonesia dan pencetus tekad Sumpah Pemuda (1928). Bila angkatan 1908 yang dibangun adalah subyek kesadaran kognitifnya. Maka angkatan 1928 menjadikan "kesadaran" itu diubah menjadi satu tekad. Lalu "tekad itu disumpahkan dan sumpah itu ditekadkan" bahwa sejatinya kita itu "satu nusa, satu bangsa, satu bahasa". Hanya ada satu yang belum berani diucapkan dalam Sumpah Pemuda 1928, yaitu "satu negara,  negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Generasi muda angkatan 1928 adalah generasi  yang lebih cerdas dan cendekia. Berbeda dengan angkatan 1945 yang tidak sempat sekolah atau kuliah di perguruan tinggi, karena ditutup oleh Jepang 1942. Selain tidak sempat kuliah, juga generasi 1945 disibukkan oleh revolusi dan perang kemerdekaan. Angkatan 1945 ini mengusung slogan "berjuang dengan darah dan air mata, merdeka atau mati." Baru setelah Indonesia merdeka dan berdirinya negara Proklamasi 17/8/1945, sekolah dan perguruan tinggi mulai dibuka kembali. Sekolah dan perguruan tinggi mulai ditebar dan didirikan diberbagai daerah di seluruh Indonesia. Puncak keberhasilan itu adalah lahirnya kelompok terdidik yang dikenal kemudian sebagai generasi pendobrak angkatan 1966. Siklus regenerasi 25 atau 30 tahunan Indonesia juga melahirkan kembali generasi muda angkatan yang melahirkan Orde Reformasi 1998 yang mengusung slogan "Anti Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN).

3. PENUTUP DAN KESIMPULAN
Suatu hal yang perlu disampaikan dalam kata penutup adalah kesimpulan bahwa: "Tidak akan ada kebangkitan bangsa tanpa pendidikan bermutu". Dengan momen Proklamasi 1945, sudah saatnya bangsa ini terus menghitung diri (muhasabah) dan introspeksi. Kapan Indonesia maju dan bangkit ?? Seberapa kemajuan yang sudah dicapai dan seberapa ketertinggalannya saat ini ?? Dengan kapasitas dan kompetensi serta sumber daya yang dimiliki, seberapa mampu pendidikan kita mengejar ketertinggalan untuk bangkit ??  Dengan menghitung dan mengukur, seberapa keterlambatan waktu antara capaian kita, dibidang IPTEK misalnya dengan kemajuan Iptek sekarang ini ??

Pertanyaan di atas, sejatinya ingin mendinamit kebekuan makna dalam memperingati dan mengisi Hardiknas dan Harkitnas. Memberi makna akan pentingnya pendidikan bermutu sebagai fondasi bagi kebangkitan bangsa. Mengenang sejarah dan bernostalgia (come memorizing) dengan kemajuan masa lalu itu penting, tetapi tidak cukup, jika semangat sejarah itu tidak memiliki dimensi proyeksi dan kekuatan transformasi stratejik untuk kemajuan Indonesia masa depan. Itulah sebabnya, mengapa usulan mengisi kegiatan dengan unjuk pendidikan bermutu dan giat usaha yang membangkitkan menjadi penting untuk ditampilkan antara 2 s/d 20 Mei. 

Peringatan Harkitnas tidak cukup sekedar bermakna, tetapi juga bermutu dan berdampak nyata (impactful) bagi kemajuan bangsa ke depan. Ada tiga bentuk "kemajuan-berdampak" yang perlu ditampilkan dalam perayaan antara Hardiknas dan Harkitnas, yaitu pendidikan bermutu, kemampuan IPTEK, dan kekuatan ekonomi Indonesia. Tentu kita semua positif dan optimis dengan etos kerja keras dan etos kerja cerdas  dapat mengantar kebangkitan nasional. Kebangkitan yang bermutu dan berdampak. Yaitu kemajuan dan kebangkitan untuk mencapai tujuan nasional kita, sebagai mana termaktub dalam Pembukaan UUD 1945, yaitu 1). Melindungi segenap warga bangsa; 2). Melindungi wilayah negara; 3). Memajukan kesejahteraan umum; 4). Mencerdaskan kehidupan bangsa; 5). Ikut serta membangun perdamaian dunia.

Apa yang menjadi Tujuan nasional di atas dapat diwujudkan dengan merealisasikan apa yang menjadi tujuan pembangunan nasional. Dengan pembangunan dimaksudkan untuk memperkuat kebangkitan Indonesia dalam berbagai aspek kehidupan. Khususnya kebangkitan berdampak dalam bidang mutu pendidikan, kekuatan ekonomi, dan kemampuan IPTEK.  Ketiganya adalah kekuatan "super culture" yang menjadi kunci penentu kemajuan suatu bangsa. Oleh karena itu, signifikansi kebangkitan hanya ada pada kemajuan, dan tidak akan ada kemajuan tanpa pendidikan bermutu. Pendidikan bermutu adalah langkah awal penting untuk meraih kebangkitan bangsa. Sekian.

Salam hormat untuk Kita semua.
Jakarta 18 Mei 2026

HSG


Previous Post Next Post