JAKARTA, DATAPEDIA.WEB.ID — DPP UMKM Nahdliyin Indonesia memasang sejumlah target ekonomi selama periode kepengurusan 2026–2031. Organisasi ini menargetkan fasilitasi pembiayaan produktif senilai Rp 500 miliar, pembentukan 38 pusat pelatihan UMKM, serta pendataan digital satu juta anggota.
Target tersebut disampaikan Ketua Umum DPP UMKM Nahdliyin Indonesia Lutfi Hakim Wahid dalam Rapat Kerja Nasional I UMKM Nahdliyin dan peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, Cipedak, Jakarta Selatan, Sabtu, 24 Oktober 2026.
Lutfi mengatakan pemberdayaan ekonomi warga Nahdliyin perlu bergerak melampaui kegiatan usaha berskala kecil yang selama ini identik dengan perdagangan dan industri rumahan. Menurut dia, petani gurem, nelayan kecil, pengemudi ojek daring, dan sopir angkutan umum juga perlu masuk dalam agenda pengembangan usaha mandiri.
Ia menyebut legalitas usaha sebagai salah satu pintu untuk memperluas akses kelompok tersebut terhadap pembiayaan, sertifikasi halal, dan pasar.
“Jihad kita hari ini adalah jihad ekonomi. Jihad melawan kemiskinan, ketimpangan, dan ketergantungan,” kata Lutfi dalam sambutannya.
Namun, pencapaian target tersebut akan bergantung pada kemampuan organisasi menerjemahkan besarnya basis warga menjadi usaha produktif, memperoleh akses pembiayaan, dan membangun hubungan dengan pasar yang berkelanjutan.
Lima target ekonomi hingga 2031
Dalam paparannya, Lutfi menyampaikan lima sasaran utama organisasi. Pertama, membentuk 38 pusat pelatihan UMKM di tingkat wilayah. Kedua, memfasilitasi 100.000 pelaku usaha memperoleh NIB dan sertifikasi halal secara gratis.
Ketiga, melahirkan 10.000 wirausaha muda melalui program Santripreneur. Keempat, memfasilitasi pembiayaan produktif senilai Rp 500 miliar. Kelima, membangun basis data digital yang memuat satu juta anggota secara terperinci berdasarkan nama, alamat, dan produk usaha.
Organisasi itu juga menargetkan sedikitnya 5.000 UMKM pangan Nahdliyin masuk ke rantai pasok industri, ritel modern, dan dapur yang melayani Program Makan Bergizi Gratis.
Lutfi menyatakan integrasi pasar menjadi salah satu strategi untuk memperkuat posisi pelaku usaha kecil. Dengan masuk ke rantai pasok yang lebih besar, UMKM diharapkan memiliki peluang memperluas produksi dan menjaga keberlanjutan usaha.
Meski demikian, target pembiayaan dan perluasan pasar tersebut masih merupakan sasaran program yang disampaikan dalam sambutan. Realisasinya memerlukan skema pelaksanaan, dukungan mitra, serta mekanisme pemantauan yang terukur.
Pesantren sebagai basis wirausaha
Lutfi juga menekankan pentingnya menghubungkan pendidikan pesantren dengan pengembangan kewirausahaan. Melalui Santripreneur, organisasi tersebut ingin mendorong munculnya wirausaha muda dari lingkungan pesantren dan daerah.
Ia memaparkan empat pilar program, yaitu pemberdayaan pemuda dan wirausaha muda, pendirian akademi serta pusat pelatihan, perluasan akses permodalan dan pasar, serta pembenahan tata kelola organisasi melalui basis data terpadu.
Menurut Lutfi, upaya tersebut akan dijalankan melalui konsolidasi organisasi, peningkatan kapasitas, kolaborasi dengan pemerintah dan sektor swasta, serta komersialisasi produk.
Di sektor perkebunan, ia mencontohkan kebun sawit percontohan yang dikelola kelompok tani Kiai Luthfi Ma'sum di Kalimantan dengan luas lebih dari 900 hektare. Ia mengatakan pihaknya sedang menjajaki kerja sama dengan Agrinas Palma dan merencanakan pengembangan pabrik kelapa sawit skala kecil.
Bagi UMKM Nahdliyin, rangkaian program itu merupakan bagian dari upaya menjadikan kemandirian ekonomi sebagai agenda pemberdayaan warga. Tantangan berikutnya adalah memastikan target yang diumumkan dapat diterjemahkan menjadi capaian yang dapat diukur dan dipertanggungjawabkan.
(Red. AMU)
